Langsung ke konten utama

Negara ke 5: Uzbekistan Part I


Bismillah..
Seperti memutar kaset film favorit, ingatan tentang perjalananku dua bulan lalu terus muncul di kepala. Mulai kusut karena setiap adegan muncul bersamaan, tampak harus kutulis agar terurai rapih dan tayang dengan baik di otakku.


Menuju Tashkent, Ibu Kota Uzbekistan
Masih sangat jelas rasanya duduk di pesawat dari Istanbul menuju Tashkent. Melintasi langit Baku, Azerbaijan. Aku memandangi monitor yang lebih jadul daripada pesawat sebelumnya. Lebih susah di zoom dan disentuh, responnya lambat dan layarnya tidak HD. Saat itu cuaca terasa panas, cahaya matahari masuk langsung lewat jendela, meskipun pemandangan gunung bersalju tampak cantik di bawah sana, akhirnya aku dan temanku memutuskan menutupnya. Ku tengok sekeliling pesawat, kursi tampak banyak yang kosong, dan semua fitur wajahnya asing, tidak ada yang mirip sepertiku yang kurasa punya khas wajah SEA. Mereka tampak menganggap pesawat sebagai rumah sendiri, tidur selonjoran karena sampingnya kursi kosong. Penerbangan yang santai, sepi, dan terasa masuk dunia lokal orang lain. Pramugara beberapa kali lewat menawarkan minum dan makan yang memang bagian dari service, tentu tidak aku lewatkan. Setelah makan dan minum aku pasang headset dan mendengar bacaan alquran dari monitor. Bukan sok agamis sih, karena penasaran aja dengerin tilawah di pesawat Turkish Airlines hehe. Lalu aku pejamkan mata, berharap sampai dengan selamat dan proses imigrasi lancar nantinya.


Tiba di Bandara Tashkent
Hari itu langitnya mendung dengan awan putih, hujan tipis, dan sangat dingin. Aku ingat temanku meninggalkan passportnya di kursi pesawat, lalu aku menunggunya di pintu. Kita tidak dapat garbarata. Jadi turun dari tangga dan naik shuttle. Tidak lupa rasanya pegangan besi di pintu shuttle yang amat dingin. Aku juga masih ingat melihat petugas bandara memakai baju tertutup dengan coat tebal, tapi tetap terlihat gagah. Aku mulai sadar bahwa aku ada di negara orang lain, dengan musim yang tidak pernah aku rasakan dan tidak mungkin ada di Indonesia. Winter season. (ya mungkin bakal ada kalo krisis iklim udah di level terparahnya? dan mau kiamat?). Keluar shuttle orang-orang berlarian masuk bandara karena dingin, tentu aku ikut-ikutan dengan jalan cepat. Sesaat memasuki pintu, langsung hangat. Eh? kok Bandaranya kecil, sederhana, dan tidak terlalu ramai. "gak salah bandara kan?" batinku. Sudahlah aku antri saja di imigrasi sambil cemas taakut ditolak masuk (alasannya kapan-kapan aku ceritakan). Ternyata tidak ditanya apapun, smooth, plakk "bunyi cap negara baru" mendarat di passport. Akhirnya, aku tiba di salah satu STAN Country..

Keluar Bandara berbarengan dengan anak-anak yang tampak habis lomba, berteriak menyebut  negara mereka dan mengangkat piala, sebagian membawa bendera dan mengibas-ngibaskannya. Kita tampak seperti kakak pelatih berbaur dengan rombongan mereka. Tidak lupa sebelum benar-benar menemukan pintu keluar temanku bertanya pada petugas, karena kita kurang yakin dengan arahnya dan karenaaa ganteng, yah ganteng, tipe muka yang sulit ditemukan dalam kehidupan sehari-hari di tempat tinggal kita masing-masing haha.


Menaiki Yandex, Taxi Online Pertamaku di Sini
Setelah menolak dan mengabaikan taksi pangkalan bandara, tibalah mobil cevrolet tua berwarna putih dengan asap yang terus keluar dari knalpotnya. Koper kami dimasukkan dan bagasinya tidak menutup sempurna karena kepenuhan haha. Aku masuk dan duduk di depan, mulai senyum-senyum karena tergelitik bahagia. Heyyy lihat depanku, jalanan luas dan suasana yang asing. Hujan gerimis menambah suasana syahdunya. Aku benar-benar ada di negara yang amat jauh dari rumah, negara bekas jajahan soviet, negara landlock yang gak punya laut, pokoknya perjalanan terjauhku sejak lahir. Bapak supir sibuk menelpon, hey lagi-lagi aku senyum geli. Bukan karena aku  mengerti tapi aku senang bisa mendengar bahasa asing lagi secara langsung setelah sekian lama.


Memakan Plov, Makanan Khas Uzbekistan
Waktu sudah menunjukkan sekitar pukul 6 sore. Jam 10 nanti sudah ada jadwal kereta menuju Bukhara. Karena cuaca sangat dingin dan hujan, lebih baik mencari tempat makan yang hangat, untuk duduk dan mengisi perut. Sesuai saran Tiktok kita meluncur ke Beshqozone setelah sebelumnya pergi ke Chorsu Bazaar dan sudah banyak yang tutup karena terlalu sore. Setelah memesan, tibalah 2 piring plov. Semacam nasi campur. Wangi dan tampilannya cukup menggoda. Setelah di makan, uhhhhh aroma di dalam mulut sangat DAGING KURBAN. entahlah sulit bagiku untuk menghabisknnya, mungkn karena terbiasa memakan daging penuh rempah di indonesia. Aku juga menggigit daginng kuda pertama dalam hidupku. Rasanya justru tidak begitu mengagetkan, tekstrunya padat dan seratnya lebih tebal dari daging kerbau. Tampaknya yang membuat aroma begitu ngandang adalah potongan-potongan lamb alias domba yang dicampur dengan nasi. Pantas saja, toh di rumah pun memang belum akur sama daging domba. Aku dan temanku tertawa-tawa sambil berusaha menyuap nasi di atas piring besar di depan kami.


Salju Pertama dalam Hidupku
Impian banyak orang dari wilayah tropis adalah merasakan salju. Termasuk aku. Sangat ingin melihatnya secara langsung. Tapi sejujurnya sebelum berangkat aku cukup cemas, mungkin aku hanya dapat hujan, karena selama aku pantau perkiraan cuaca, di sana tertulis 'wintry mix' dan logo air hujan. Tapi saat hendak bayar di kasir, temanku menepuk pelan tanganku "pi, salju". terlihat butiran halus turun pelan dari pintu kaca dekat kasir. Ya Tuhaan, hatiku tergelitik lagi. Apaa? dapat Snow Fall? In my first day? hmmm aku tersipu dengan baiknya Tuhan menyambutku di negara ini. Aku mulai senyum-senyum tipis lagi, lalu kita  berjalan keluar dan berlari kecil kedinginan untuk menunggu yandex menuju stasiun. Aku sih buka hp dan sedikit videokan, karena ini sangat mahal. Moment yang sangat mahal. Selama di perjalanan menuju stasiun aku senyum-senyum sendiri lagi, ya lagi. Aku sangat tersentuh dengan moment sederhana yang Tuhan siapkan untukku di hari kedatanganku di negara ini. 


Jujur saja selama menuliskan ini aku masih senyum-senyum sendiri. Pengalaman-pengalaman pertama pada bab perjalanan baruku. Pertama kali naik maskapai (baru untukku), pertama kali tiba di negara Stan, pertama kali naik mobil cevrolet tua, pertama kali makan daging kuda, pertama kali dapat snowfall. I love all the moments. And I love to remember that. Aku suka saat itu, saat aku senyum-senyum sendiri melihat apa yang ada didepanku. Hatiku penuh, dan otaku sangat lancar merekam momentnya. Tenang, indah, dan jelas. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Uzbekistan Part II - Kota Tua itu Bernama Bukhara

Bismillah.. Papan Petunjuk Lokasi di Bukhara Aku bergegas turun dari mobil cevrolet tua di depan sebuah stasiun kereta. Sesaat setelah menutup pintu, aku menggeret-geret koper dan berlari kecil menuju pintu stasiun. Udara terasa sangat dingin, disertai butiran salju halus berjatuhan. Halaman stasiun tampak putih. Sebelum masuk, aku dan temanku menyempatkan diri untuk singgah di toko kecil di depan pintu stasiun, kami memberi cemilan dan air mineral sebagai bekal untuk 7 jam perjalanan kereta. Setelah memasuki stasiun, udara seketika menghangat. Kutengok sekeliling, semua wajahnya asing, postur tubuhnya tinggi tegap dengan mantel tebal. Kami cukup kesulitan mencari tempat duduk. Terdengar hingar bingar pengumuman dari sumber pengeras suara, namun semuanya tidak kumengerti. Tidak ada pengumuman susulan berbahasa Inggris. Karena khawatir terlewat, kami segera bertanya ke petugas terkait jadwal keberangkatan kereta, yang ternyata masih menunggu sesuai jadwal di tiket.  Mengantri di St....

3 Negara : Part 1 - Niat Satu Negara, Eh Jadi Tiga

Bismillah.. Pada awal bulan Februari aku dan temanku pergi ke 3 negara ASEAN, yaitu Thailand, Vietnam, dan Malaysia. Aku sudah janji akan ceritakan pengalaman kami dari PoV-ku. Alasan aku menulis ini, pertama untuk mengabadikan ceritaku, kedua untuk membantu siapapun yang membutuhkan cerita ini. Karena  pada tahap rencana, aku pun membaca puluhan blog sebagai bahan risetku untuk persiapan pergi. Dan aku terbantu oleh tulisan2 traveler tersebut, aku harap demikian tulisanku dapat membantu yang lain. Tulisan ini akan aku bagi menjadi 3 part.  Part 1 : tentang Persiapan Part 2 : tentang Budgeting dan Experience Part 3 : tentang Lessons  Persiapan Solo atau Travel Agent? Aku dan temanku mempersiapkan semuanya tanpa travel agent. Mulai dari riset tempat, akomodasi, transportasi dan lain sebagainya. Kita gak pake Visa ya, karena passport kita bisa izin tinggal ke negara2 itu, cek aja passport kita bisa masuk gratis kemana aja, cari di google ya. Jadi dokumennya cukup passpost...