Bismillah..
Papan Petunjuk Lokasi di Bukhara
Aku bergegas turun dari mobil cevrolet tua di depan sebuah stasiun kereta. Sesaat setelah menutup pintu, aku menggeret-geret koper dan berlari kecil menuju pintu stasiun. Udara terasa sangat dingin, disertai butiran salju halus berjatuhan. Halaman stasiun tampak putih. Sebelum masuk, aku dan temanku menyempatkan diri untuk singgah di toko kecil di depan pintu stasiun, kami memberi cemilan dan air mineral sebagai bekal untuk 7 jam perjalanan kereta.
Setelah memasuki stasiun, udara seketika menghangat. Kutengok sekeliling, semua wajahnya asing, postur tubuhnya tinggi tegap dengan mantel tebal. Kami cukup kesulitan mencari tempat duduk. Terdengar hingar bingar pengumuman dari sumber pengeras suara, namun semuanya tidak kumengerti. Tidak ada pengumuman susulan berbahasa Inggris. Karena khawatir terlewat, kami segera bertanya ke petugas terkait jadwal keberangkatan kereta, yang ternyata masih menunggu sesuai jadwal di tiket.
Mengantri di St. Tashkent
Saat aku dan temanku mendekati pintu peron untuk mengantri menuju kereta, tiba-tiba seorang ibu-ibu mengajak kami membuat video ucapan untuk menyapa beberapa nama. Aku dan temanku sempat bingung, sampai akhirnya tersadar bahwa kami sedang diperlakukan selayaknya turis haha. Aku tidak tahu siapa nama-nama yang kami sapa, entah itu anaknya, suaminya, pamannya atau siapapun itu. Ibu-ibu tersebut ternyata merupakan penumpang kereta yang akan pulang ke rumahnya. Ia mengajak kami berkunjung ke daerahnya, Turkmenistan. Ternyata beliau datang dari negara tetangga. Tetangganya Uzbekistan. Ia mengatakan bahwa negaranya juga indah dan layak dikunjungi. Baiklah, semoga Allah mengizinkanku berkunjung ke sana suatu hari nanti.
Tiba jadwal keberangkatan kereta kami, lalu kami segera naik kereta dan mencari tempat tidur kami. Ini pertama kalinya aku menggunakan sleeper train. Buatku ini nyaman, sangat hangat, peralatan tidur yang lengkap, hingga lampu baca. Oh, bahkan ada teh dan gula jika ingin menikmati minuman manis malam-malam. Aku segera membersihkan muka, membuka mantel, dan merapikan tempat tidur. Semakin larut, lampu gerbong dimatikan sehingga gelap gulita. Tidak apa, tidurku menjadi lebih nyenyak. Satu kekurangan kereta ini, kabin setiap penumpang terbuka sehingga aku bisa melihat penumpang lain tertidur, juga bisa dilihat orang lain. Meskipun masih bisa diakali dengan memasang seprei untuk menutupi sekeliling tempat tidur. Terasa main rumah-rumahan haha
Ternyata tidak ada pengumuman saat stasiun berhenti. Aku tiba-tiba terbangun dan menjadi cemas takut stasiun tujuan kami terlewat. Sesekali aku melihat google maps untuk mengetahui posisi kami. Ternyata jika sudah dekat, pihak petugas akan membangunkan penumpang di stasiun tujuannya. Tapi tetap saja aku khawatir. Setelah agak dekat aku dan temanku bersiap, kemudian mendekat ke arah pintu gerbong. Kami berpapasan dengan sekelompok gadis yang juga sedang berwisata. Tujuan kami sama. Lalu kami sempat berfoto bersama sebagai kenang-kenangan. Mereka dari Kazakhstan, tengah berlibur kuliah, jurusan kuliah mereka Islamic studies. Aku masih ingat bagaimana salah satu gadis memperkenalkan diri kepada kami dengan semangat, saat itu kami berhadapan sambil berbincang dekat pintu gerbong.
St. Bukhara
Saat turun dari kereta, udara terasa begitu dingin. Ya wajar memang, karena masih sangat pagi dan salju sedang turun. Kami disambut hangat oleh bapak-bapak petugas yang menanyakan asal kami. Kadang-kadang ramah itu boleh, tapi tetap harus tegas. Saat itu karena kami terlalu ramah dan berpositif thinking, tiba-tiba seorang bapak petugas membantu kami mengangkat koper dengan troli, lalu mengantar kami keluar stasiun ke arah parkiran. Padahal kami berniat menghangatkan diri terlebih dahulu sambil menunggu Yandex. Alamak, bapak itu tiba-tiba meminta 50.000 Som sebagai upah membantu mengangkat koper, dan menyuruh kami menaiki taksi lokal pilihannya. Hei tidak ada anggaran untuk scam semacam ini. Akhirnya kami hanya memberinya 14.000 som dan menolak taksi yang disarankannya. Kami segera pergi menjauh dan berfoto di depan stasiun meskipun sangat kedinginan, tujuannya agar terlihat sibuk dan tidak diganggu lagi (sambil memesan taksi online-yandex).
Pemukiman penduduk belakang penginapan
Langit masih sangat gelap, kami tiba di tujuan kami. Namun suasananya seperti perkampungan, kami seperti diturunkan di belakang rumah orang lain. Tembok-tembok rumah penduduk terlihat seperti susunan batu bata berwarna coklat. Aku sedikit membatin, apakah seperti ini pemukiman di zaman nabi? (Entahlah, ini yang terlintas di pikiranku). Berdasarkan maps, memang kami sudah sampai di penginapan. Namun tidak ada tanda-tanda pintu gerbang. Akhirnya aku segera menghubungi pemilik penginapan, untungnya cukup responsif. Tidak lama seorang perempuan muda menjemput kami. Benar saja, kami kurang tepat mengambil jalan. Padahal, jalanan depan penginapan lebih besar dan langsung menghadap gerbang. Tidak apa, yang terpenting kami sudah sampai.
Kami istirahat sebentar menunggu subuh. Lalu menyiapkan air untuk mandi, menyempatkan diri mencuci pakaian, menyetrika dan memasak untuk sarapan. Aku sangat ingat saat pergi ke dapur, aku menatap jendela yang mengarah ke halaman belakang. Indah sekali, butiran salju sedang turun perlahan, pemandangan yang sangat tenang dan sopan hehe. Aku segera menjemur baju di dapur dan membawa peralatan makan ke kamar.
Bukhara di Pagi Hari
Selamat pagi Bukhara
Aku menggunakan mantel coklat dan sarung tangan hitam tebal yang sudah kupersiapkan sebelumnya. Tidak lupa membawa payung yang telah mengendap dalam bagasi berjam-jam. Pagi itu hujan salju, jalanan masih sepi. Aku dan temanku memutuskan berjalan kaki dari penginapan menuju spot-spot penting di sini. Google maps mengarahkan kami melalui gang-gang tua yang rapi nan estetik. Tumpukan salju masih menggunung dipojok-pojok jalan, atap dan pohon-pohon terlihat putih diselimuti salju yang cukup tebal. Aku berfoto sebentar di pinggir kolam dengan air berwarna hijau yang indah dan tenang. Lalu melangkahkan kaki menuju Po-i Kalyan. Dingin sekali rasanya, meskipun aku telah menggunakan sarung tangan berbulu, tetap saja ujung-ujung jariku kebas. Permukaan jalan masih basah karena salju yang turun dan mungkin salju tadi malam yang mulai mencair. Aku dan temanku menepi ke area bangunan madrasah di Po-I Kalyan. Sesekali berfoto, meskipun dilihat-lihat temboknya tidak spesial, tampak seperti tembok masjid raya di kabupatenku. Akhirnya kita mencoba berfoto ke tengah agar pemandangannya lebih "Uzbekistan" haha.
Area Po-I Kalyan
Menjadi Turis di Negara Lain
Di tengah-tengah berfoto, tiba-tiba kami dihampiri sekelompok bapak-bapak. Mereka warga lokal dari kota lain yang juga sedang berwisata, mereka meminta foto kepadaku dan temanku untuk kenang-kenangan. Disusul satu persatu berfoto bersama. Bak artis di dunia lain, aku berpose ramah sambil tergelitik ngakak dalam hati melihat mereka mengantri untuk foto. Beginilah meskipun rupa mereka lebih ngartis, tapi mungkin inilah yang dinamakan euforia bertemu orang asing. Seperti ibu-bapak kita meminta foto saat bertemu bule di candi Borobudur. Selesai berfoto, ada lagi yang bertanya padaku dan temanku terkait asal kita. Kita juga mendapat pujian "naturally beautiful" katanya. Alamak, bahkan orang-orang terdekatku tak pernah memujiku begitu haha. Tak hanya di situ, saat aku sedang menunggu Yandex di pinggir jalan, tiba-tiba ada gadis muda yang menyentuh tanganku meminta berfoto. Dengan ramah aku berpose tersenyum semanis mungkin. Aduhai, beginikah rasanya jadi Tiara Andini wkwk. Padahal perempuan itu jauh lebih cantik dariku, tapi inilah the power of "berbeda", mungkin baginya wajahku unik, kapan lagi bertemu manusia berhidung pesek wkwk
Ark of Bukhara
Xonaqoh Masjid
Adzan di Bukhara
Saat taksi tiba, kita segera naik mobil menuju Ark of Bukhara. Benteng yang sangat besar, masih terlihat gagah dari luar. Tanpa babibu, kita segera membeli tiket, yang disambut hangat oleh ibu-ibu penjaga. Kita mulai berjalan dan melihat artefak kuno peninggalan kerajaan Bukara terdahulu. Karena kota ini tempat bersinggahnya pedagang saat silk road aktif dulu, maka banyak keramik dan perkakas dari negara lain seperti dari China yang dipajang. Ark of Bukhara juga menjadi pusat pemerintahan dan tempat tinggal raja berabad2 lalu. Sehingga banyak tempat-tempat yang diberi keterangan sebagai pusat pertemuan raja dengan prajurit, tempat raja menyapa masyarakat, dsb. Aku juga naik ke puncak teratas. terdapat reruntuhan bekas kubah masjid dari abad ke-18 bernama Xonaqoh. Dari sini juga aku bisa melihat Po-I Kalyan dan seluruh kota Bukhara. Kebetulan terdengar sayup-sayup adzan berkumandang. Hatiku merasa haru. Beribu kilometer dari rumah, aku masih bisa mendengar adzan. Di sini, di kota tua ini. Ternyata Islam masih punya ruang di negara yang sempat dikuasai Soviet.
Po-I Kalyan
Ratusan Tahun Lalu, Genghis Khan Berdiri di Sini
Saat langit mulai gelap, aku kembali ke halaman Po-I Kalyan. Melihat Kalyan Minaret yang mulai terang karena lampu sekitarnya dinyalakan. Tampak lebih cantik saat gelap. Aku berdiam dan menatapnya lamat-lamat. Ratusan tahun lalu, Genghis Khan pendiri kekaisaran Mongol tiba di tempat ini. Meluluh lantakan kota dalam misi merebut wilayah kekuasaan. Tapi ia tidak merobohkan menara ini, ia menatap menara yang menjulang hingga helm besinya jatuh ke tanah. Ia menunduk mengambil helm tersebut. Kemudian berkata bahwa dirinya tidak pernah menunduk dihadapan siapapun dan apapun, maka ini pertama kalinya ia menunduk di depan sebuah menara. Lalu, Genghis Khan memutuskan agar menara ini tetap dijaga. Menara Kalyan tidak lebih megah dari Burj Khalifa, tidak lebih tinggi dari Eiffel Tower, tidak lebih modern dari Menara Petronas, bahkan lebih sederhana dari Monas. Tapi tetap saja ia spesial. Ia berdiri, berkali-kali menjadi saksi bisu kotanya diperebutkan, dihancurkan, dibangun kembali. Ia tetap ada di sana. Berdiri di bawah kepemimpinan yang berubah-ubah. Mataku melihatnya lamat-lamat. Aku sangat bersyukur masih bisa melihatnya hari ini.
See you, Bukhara
Sampai Jumpa Kota Kelahiran Sang Perawi Hadits
Aku hanya menyisihkan satu hari di kota tua yang indah ini. Lalu memesan tiket kereta untuk bergeser ke kota lain. Sejak awal, kota ini berusaha untuk disinggahi, karena menjadi tempat yang spesial dan bersejarah. Ribuan hadits yang menjadi pedoman umat Islam saat ini diriwayatkan oleh perawi hadits yang masyhur, yakni Imam Bukhari. Dan di sinilah tempat kelahirannya. Kota ini masih sangat antik, semua bangunan masih menjaga gaya yang kuno dengan susunan batu bata coklat. Termasuk hotel dan restoran. Aku masih mengingat rasanya berjalan pelan menyusuri gang yang bersih dan terasa tradisional. Makan laghman dan manti paling enak selama perjalananku di Asia Tengah, dinginnya udara yang menusuk pori-pori, dan tenangnya setiap sudut kota. Aku tentu sangat senang hati apabila Allah memberiku waktu hidup lebih lama dan mengizinkanku kembali ke kota ini bersama orang yang kusayang, untuk mentadaburi setiap sudut kota dan sejarahnya yang kaya ini.
Sampai bertemu lagi, Bukhara..










Komentar
Posting Komentar