Bismillah..
Sekitar bulan Mei atau Juni aku nangis terus2an karena kehilangan kucing yang belum diberi nama, ternyata dia ati di sumur salah satu kenalan jemaah pengajian ortuku. Sekitar bulan Juli aku adopsi kucing putih dari kenalanku, keponakanku memberi saran untuk dinamai Chiko. ya kami sepakat namanya Chiko.
| Foto baru dtg dr jkt kgn Chiko |
Awal bulan November aku pulang dari Jakarta. Sampai di Tasik aku dijemput oleh ortu dan kakak ku, kami makan, selanjutnya pergi ke petshop. Aku membeli litter box baru yang lebih besar, makanan basah dan kering, shampoo kucing, sisir kawat dan karet untuk grooming si Chiko dan mencoba pasir gumpal wangi lavender 2 kg.
Aku kangen banget, rasanya semua orang dirumah kalo dalam bahasa Sunda, "tos namplokeun kanyaah" buat si Chiko. Bapak yg biasanya cuek, tiap pulang dari mesjid selalu bertanya "mana si ucikk?" dilanjut dengan bermain2 dengannya, si chiko yg menggigit2 tangannya. Mamah yg serba sibuk masih sempat2 nya perhatian, tiap dijemput pulang kerja, hal yang pertama ia tanyakan "Si chiko ker naon di bumi?". Aku dan aa ku jelas, selalu berkirim gambar kalo si Chiko lagi menggemaskan, selalu mengetok2 pintu kamar memberi tahu si Chiko sedang apa. Iklim rumah ku sudah jelas penuh dengan kasih sayang tumpah tumpah buat si Chiko.
Minggu malam 7 November, kita heboh Chiko muntah busa, aku coba timang coba bersihkan, coba memberinya minum air hangat. beberapa jam setelahnya Chiko muntah lagi berwarna kekuningn, ada rumput agak besar didalamya. Aku dan aaku mencari tahu lewat internet. Asumsi ku ini muntah hair ball atau karena dia makan rumput yg tdk bisa dicerna. Besoknya dia ceria lagi, lari lari dan semakin menggemaskan, kami tenang.
Karena rencana sebentar lagi ada kuliah tatap muka, akan sulit kalo harus bawa Chiko. Aku selalu mengajaknya bicara, Chiko mau ikut ke Jakarta enggak, Chiko yuk ke Jakarta. Aku selalu bilang ke orang rumah, jagain Chiko ya mandiin, bersihin eenya, kasih makan, kalo nnti aku ke Jakarta. Pulang dari Jakarta Chiko harus makin gendutt. Aku makin gemas memeluk Chiko tiap hari.
Sabtu 13 November, aku membuka shampoo baru, aku mandikan dia dengan air hangat ketika dzuhur. Dia manis, anteng, gak ada pemberontakan sama sekali. Gak biasanya, kakak aku memvideokannya. Chiko benci hair dryer sejak kecil, jd aku selalu membungkusnya dengan handuk, dilanjutkan menjemurnya, tidak lama bulunya akan kering, Chiko keliatan lebih luwis dan bulu putihnya bersih, makin ganteng dan manis.
Sabtu malam aku sempat mengambil foto, dia tidur sebentar dikamar aku. Aku post di Instagram story. Tak lama dia terbangun, lalu tidur di tempat lain, ntah di ruang tengah, kamar mamah bapaku atau kamar kakak ku, aku kurang tahu.
Subuhnya, aku dibangunkan mamah untuk sholat, Chiko sudah bangun duluan. Dia seperti biasa suka heboh, dia ikut masuk ke kamar mandi, aku yg masih berdiam karna mengantuk membeiarkannya ndusel2 di kaki ku. Lalu aku pangku dan mengeluarkannya dari Wc, khawatir kena basah air wudhu. Siapa sangka itu jadi pertemuan terakhir aku dengan Chiko, memori terakhir kita direkam mataku yang masih buram baru bangun, mata kita belum jelas bertatapan. Chikoo didit kangenn,
Hari minggu itu setelah sholat aku tidur pagi, mamah ku melihat Chiko bermain2 dihalaman. Ketika aku bangun pukul setengah 9, mamahku bilang Chiko kemana ya tadi jam 8 masih diem2 disana. Aku masih santai, mungkin dia bersembunyi dibawah mobil, karena biasanya begitu. Dia masuk rumah kalo sudah lapar. Tapi sudah jam 10 belum ada, semua org mulai panik. Tapi masih ada ketenangan, kita amengasumsikan dia ikut2 kucing liar betina yang sering ada disekitar rumah.
Sudah masuk dzuhur dia belum pulang juga, mamahku pergi ke warung sebelah barat pura2 belanja padahal mau nanyain kucing, tapi biar gak malu sekalian beli bmbu dapur. hasilnya gak ada yang lihat. Aku dan mamah lanjut mencari ke sekitar bangunan sekolah, masuk ke kebun juga, ke kebun kapol dan melihat2 sumur milik tetangga khawatir kecebur. Nihil, tidak ada. Kami pulang, kucing2 betina pun berdatangan tanpa Chiko yg mengikuti mereka. Kepanikan kami makin besar. Kmai mencoba menyelasar kolam lele samping rumah dengan batang bambu 3 meteran, nihil. Perasaan ku masih terasa tenang, tapi praduga dan pemikiranku mulai was was.
Selepas dzuhur aa ku pergi ke lokasi kucing yang dulu tenggelam (kucing sebelum Chiko), tidak ada juga. Mamah ku pergi ke warung sebelah timur, ada informasi tukang warung melihat kucing putih di masjid tempat bapaku biasa sholat. Bapaku yg biasa sholat ashar dirumah, pun berangkat sholat ke mesjid. Sambil bertanya2 ke orang2 disekitar, menitipkan pada anak kecil, jika melihat tolong diantarkan. Anak2 itu pun sempat melihat kucing putih dipinggir jalan tadi siang katanya. Kami buatstory di facebook, semua gencar mencari, tetangga pun demikian membantu. Semua berasumsi, ada yang mengambil. Tapi hatiku menolak, tidak mungkin.
Hari senin ada informasi tambahan, tukang jahit yang rumah nya dekat mesjid, melihat kucing putih pakai kalung, agak basah bulunya, mungkin habis menggerus menembus jalan rumput di kebun, dia melihat kucing itu menyebrang ke sebrang jalan rumahnya, selebihnya tidak memperhatikan. Sudah dipastikan, kami yakin itu Chiko. Aku dan aa ku hendak mencari tapi hari itu hujan lebat.
Hari selasa, pukul 10.00 aku dan aa ku membawa golok, kami memutuskan menyusuri kebun lebat belakang rumah, karena jarang ada petani, kami bawa golok untuk menyingkirkan rumput liar. Nihil, tidak ada. Aa ku bilang gini "Aa lebih ridho Chiko mati, tapi bangkainya ketemu. Daripada diurus orang tapi kita gak tau dimana". Sebelum dzuhur mamahku pulang kerja, ia mengajaku untuk menyusuri tempat2 orang melihat Chiko. Akirnya selepas dzuhur kita berangkat dengan membawa rok yang akan dikecilkan ke tukang jahit, sekaligus bertanya kembali tentang kucing yang dilihatnya.
Setelah mengobrol, mamah mengajaku berjalan menyusuri jalan raya ke arah timur, tapi baru menyebrang dari rumah tukang jahit, mamah berteriak "Ditt gening itu", Ada yang tergeletak berwarna putih di kebun pinggir jalan, agak kebawah sedikit, aku melihat matanya terbuka, aku harap ketika aku panggil "Chiko" dia masih bergeming, aku akan peluk, membawanya ke dokter atau kemanalah terserah. Tapi pupil matanya sudah lebar dia tak bergerak, kaku, dengan kalung yang masih mlingkar. Iya itu Chiko.
Semuanya panik, menghampiri. Aku pulang ke rumah memberi tahu aa ku, menyuruhnya membawa cangkul. Tangisku belum pecah, tapi aa ku langsung membentangkan badannya dilantai, ia lemas, tak percaya. Aku mulai menangis menyuruhnya cepat sambil mencari2 cangkul, aa ku masih lunglai berdiri memegangi lutut. Tukang jahit memberikan sehelai kain, aku menangis masi menangis, aa ku memindahkan chiko yang kaku ke kain, lalu mnguburkannya di kebun itu. Kami pun pulang, aku meraung2 tak percaya.
| Chiko's grave |
Asumsi kami Chiko meninggal karena tertabrak, ia tak bisa lagi berjalan, sehingga diam disana kena hujan dan mati, atau dia keracunan, atau satu lagi dia sudah tahu umurnya sampai hari itu lalu memutuskan berdiam disana karena katanya kucing mati akan sembunyi dari majikannya. Wallahualam. Aku jadi tidak percaya hati lagi, hati yg tenang belum tentu keadaan baik2 saja, hati yang tdk tenang belum tentu ada keadaan buruk. hatiku bohong hari itu merasa tenang Chiko akan pulang ke rumah, kenyataannya Chiko pulang ke Penciptanya.
| Chiko seringg bgt tidur diatas leptop |
Chiko, 5 bulan memang tdk lama, konon kucing tdk masuk surga atau neraka, jiwa raganya melebur jadi tanah, tapi betapa menyakitkannya melihat kamu membeku diatas tanah, dikebun terbuka, 2 hari terakhir pasti dingin kehujanan, Chiko ku yang malang, kamu hilang dan begini, kesakitan tidak sayang?.. kamu yg selalu mengganggu saat tidur, selalu naik meja dan tidur diatas leptop, selalu naik ke pangkuan saat kuliah, akan selalu dirindukan, ternyata sebelum didit yang ninggalin ke Jkt, kamu ngeduluin ya ninggalin didit chik.. kamu dan nyawamu telah pergi, tapi tetap hidup di hati kami, di rumah. Love U Chiko..
| Bulan Juli, Hari pertama Chiko diadopsi |
| November, malam sebelum Chiko pergi |
Komentar
Posting Komentar