Langsung ke konten utama

Part 1 : KERETA ATAU BIS YA? PERJALANAN TASIKMALAYA - KEBAYORAN BARU

Bismillah

Biasanya aku berangkat ke daerah Kebayoran, Jakarta Selatan via bis. Baru pertama kali kemarin aku naik kereta. Disini aku ingin meninggalkan jejak cerita bagaimana perantauanku naik kendaraan umum. This is just my own opinion, jadi sepenuhnya subjektif.

 NAIK BIS

Perjalanan naik bis biasanya 7 jam. Yang aku tahu dan yang sering aku gunakan adalah layanan Bus Primajasa untuk pergi ke daerah Jakarta Selatan. Di tahun 2022 ini ekonomi AC harganya 90 ribu, eksekutif harganya 140 ribu, estimasi sampainya sama. Tasik-Lebak Bulus menjadi jurusan bis antar kota yang kupilih. Dua-duanya nyaman, tidak kepanasan dan sensasi cara meyetirnya terasa sama. Beberapa kali aku turun di lebak bulus, ada banyak alternatif untuk pergi ke Kebayoran. pilihan pertama, Naik MRT turun di blok M, lalui naik gojek. menurutku rasanya too pricy, dan muter2. Pilihan kedua, naik Trans Jakarta, sampai halte di Kebayoran, naik ojol ke tempat tujuan. Sama saja, 2 kali naik, BAGIKU dengan barang bawaan banyak, ini melelahkan. Pilihan ketiga, naik ojol langsung. Aku belum pernah coba pil 1 dan 2. Beberapa kali aku pake pil 3. Dengan BERBAGAI RESIKO yang bikin aku kapok dan males lagi turun di Lebak Bulus.

KENAPA KAPOK TURUN DI LB?

Ketika bus menurunkan para penumpang, segerombolan bapak2 supir taxi, angkot dan ojeg pangkal mengerubuni kami2 perantau muda - tua yang bawa kardus2 dan perintilan dari kampung. Mereka bertanya dan mengjak untuk menggunakan layanan jasanya. Tadinya 1-2 kali turun disana aku gak masalah, karena akan ada teman yang jemput, mereka menjauh, walopun akhirnya yang jemput gajadi, aku naik ojol. Kenapa ojol? biayanya jelas, kita tidak perlu menawar dan tidak akan ditekuk. biasanya aku bayar 20-30 ribu untuk jarak LB-Kostan, 8 km. Tapi hari itu, aku yg bawa tas selempang, ransel, keresek besar dan kardus. Dikerubuni bapak2. Bagiku rasanya seperti diintimidasi, aku pura2 akan dijemput. Mereka menunggu disekitar, tatapan galak yang TIDAK NYAMAN. Aku pura2 telpon temanku, berbicara bahasa Arab, aku tahu temanku bingung. HAHA.. sambil mencuri2 kesempatan buka aplikasi ojol. Aku bilang aku akan dijemput, mereka menjauh. Terlihat orang2 seusiaku yg bingung dan risih dikerubuni. Tak lama ada bapak2 supir, entah supir apalah. Dia menunjuk hpku yang kedapatan sedang buka aplikasi ojol. Tatapannya menakutkan. Dia bilang "Gojek ya?' Demi Apapun suaraku tersangkut di kerongkongan, aku tercekat, mau jawab, gabisa. Serasa bermimpi ketemu hantu WOI. Lututku lemas, rasanya mau diterkam, ini menakutkan. Aku hubungi temanku kembali untuk pura2 meminta jemputan. Dia kebingungan, malah mematikan hp, aku katanya gajelas. Memang benar kalo dilihat dr sudut pandang dia, aku benar2 tidak jelas. Tapi dalam situasi terjepit aku melakukan apapun yang kubisa. Aku bahkan udah gak kuat ngomong ngaco pake bahasa arab, pengen nangis dan jongkok. Gak lama Ojolku dateng, kerumunan itu melotot, aku takut. Sampai di kostan, aku menangis, memberi tahu grup keluarga, aku GAK MAU TURUN LAGI DISANA!.

Disisi lain aku memahami, mereka sedang mencari nafkah. Mungkin sebagai kepala keluarga yang dituntut membiayai istri dan anaknya atau bahkan keluarga besarya.

Tapi kenapa caranya harus seperti itu? Aku yakin siapapun itu akan tidak nyaman dikerumuni, dilihat dan diajak bicara dengan cara seperti ini. Persepsiku terlanjut tidak baik, bukan malah ingin menggunakan jasanya, tapi takut dan was was rasanya. Tolong jangan paksa aku untuk mncobanya, ini sungguh tidak nyaman.

Perjalanan setelah hari itu, aku memutuskan turun di Gaplek. Ful Primajasa daerah Tanggerang Selatan. Lebih jauh dari kostan, tapi terasa lebih aman. Aku berkunjung ke temanku di daerah UIN Jakarta, via ojol 14 ribu, dari sana baru ke kostan by discount 21 ribu.

Bus ini bisa menaik turunkan penumpang dimana saja. Namun, jika tidak turun di Lebak Bulus, tidak bisa turun lagi di jalanan, langsung ke Gaplek.

Jika ditotal biaya naik bis ke kost ku sekitar 110 ribu. 90k bis, 30k ojol. Estimasi waktu 8 jam.

Mudah2an para pekerja yang ssedang berusaha, mendapat keberkahan dan tak putus asa belajar mengikuti perkembangan jaman. Menghormati calon customer maupun bukan. Semoga setiap perjalanaku berkah, serta aman dalam penjagaan Allah sebaik-baiknya penjaga.. Amiin

lalu bagaimana dengan kereta?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Uzbekistan Part II - Kota Tua itu Bernama Bukhara

Bismillah.. Papan Petunjuk Lokasi di Bukhara Aku bergegas turun dari mobil cevrolet tua di depan sebuah stasiun kereta. Sesaat setelah menutup pintu, aku menggeret-geret koper dan berlari kecil menuju pintu stasiun. Udara terasa sangat dingin, disertai butiran salju halus berjatuhan. Halaman stasiun tampak putih. Sebelum masuk, aku dan temanku menyempatkan diri untuk singgah di toko kecil di depan pintu stasiun, kami memberi cemilan dan air mineral sebagai bekal untuk 7 jam perjalanan kereta. Setelah memasuki stasiun, udara seketika menghangat. Kutengok sekeliling, semua wajahnya asing, postur tubuhnya tinggi tegap dengan mantel tebal. Kami cukup kesulitan mencari tempat duduk. Terdengar hingar bingar pengumuman dari sumber pengeras suara, namun semuanya tidak kumengerti. Tidak ada pengumuman susulan berbahasa Inggris. Karena khawatir terlewat, kami segera bertanya ke petugas terkait jadwal keberangkatan kereta, yang ternyata masih menunggu sesuai jadwal di tiket.  Mengantri di St....

Negara ke 5: Uzbekistan Part I

Bismillah.. Seperti memutar kaset film favorit, ingatan tentang perjalananku dua bulan lalu terus muncul di kepala. Mulai kusut karena setiap adegan muncul bersamaan, tampak harus kutulis agar terurai rapih dan tayang dengan baik di otakku. Menuju Tashkent, Ibu Kota Uzbekistan Masih sangat jelas rasanya duduk di pesawat dari Istanbul menuju Tashkent. Melintasi langit Baku, Azerbaijan. Aku memandangi monitor yang lebih jadul daripada pesawat sebelumnya. Lebih susah di zoom dan disentuh, responnya lambat dan layarnya tidak HD. Saat itu cuaca terasa panas, cahaya matahari masuk langsung lewat jendela, meskipun pemandangan gunung bersalju tampak cantik di bawah sana, akhirnya aku dan temanku memutuskan menutupnya. Ku tengok sekeliling pesawat, kursi tampak banyak yang kosong, dan semua fitur wajahnya asing, tidak ada yang mirip sepertiku yang kurasa punya khas wajah SEA. Mereka tampak menganggap pesawat sebagai rumah sendiri, tidur selonjoran karena sampingnya kursi kosong. Penerbangan yan...

3 Negara : Part 1 - Niat Satu Negara, Eh Jadi Tiga

Bismillah.. Pada awal bulan Februari aku dan temanku pergi ke 3 negara ASEAN, yaitu Thailand, Vietnam, dan Malaysia. Aku sudah janji akan ceritakan pengalaman kami dari PoV-ku. Alasan aku menulis ini, pertama untuk mengabadikan ceritaku, kedua untuk membantu siapapun yang membutuhkan cerita ini. Karena  pada tahap rencana, aku pun membaca puluhan blog sebagai bahan risetku untuk persiapan pergi. Dan aku terbantu oleh tulisan2 traveler tersebut, aku harap demikian tulisanku dapat membantu yang lain. Tulisan ini akan aku bagi menjadi 3 part.  Part 1 : tentang Persiapan Part 2 : tentang Budgeting dan Experience Part 3 : tentang Lessons  Persiapan Solo atau Travel Agent? Aku dan temanku mempersiapkan semuanya tanpa travel agent. Mulai dari riset tempat, akomodasi, transportasi dan lain sebagainya. Kita gak pake Visa ya, karena passport kita bisa izin tinggal ke negara2 itu, cek aja passport kita bisa masuk gratis kemana aja, cari di google ya. Jadi dokumennya cukup passpost...