Langsung ke konten utama

1 + 1 HASILNYA TIDAK SELALU 2

Rumus Tuhan Itu Diluar Nalar Kita sebagai Manusia..


Bismillah..

Para motivator mengatakan usaha tidak akan pernah menghianati hasil atau hasil selalu berbanding lurus dengan usaha. Tapi, nyatanya tidak sesederhana itu bukan? Nyatanya banyak yang mengalami ketidaksengajaan memperoleh keberuntungan atau bahkan dalam usaha terperihpun seringkali manusia yang amat lemah masih harus menelan pil pahit. Atau 2 orang melakukan tindakan yang sama dalam waktu yang bersamaan, tapi hasilnya berbeda. Inikah yang dinamakan konsep rejeki?..

Aku sering lupa untuk bersyukur, terdengar klasik memang, tapi ya ini faktanya.. penalaran akan memaknai hidup sepertinya memang perlu skill.. Ada orang yang "menurut perhitungan manusia" belum mencapai apa2, tapi justru jiwanya dipenuhi etos kerja yang positif. Dan sebaliknya, ada orang "yang pencapainnya diidamkan hingga banyak yang iri" malah merasa hampa dan penuh kegagalan.

(Aku tunda dulu pembicaraan tingkat kepuasan yang tinggi sangat mungkin mendorong setting goals yang lebih baik).

Aku ingin menyelami sepenggal cerita yang aku lalui. Beberapa bulan lalu, aku berusaha mengajukan proposal penelitian sana sini, siang malam begadang menyusun bab perbab. Tujuannya adalah proposal yang aku susun ini lolos dan memperoleh pendanaan, yang mana ini merupakan prestasi dengan prestise berharga "menurut pendapat diriku". Namun, nihil. proposal yang diperjuangkan dengan segenap jiwa raga dan waktuku ini "TIDAK LOLOS". bahkan panitianya pun melawatkan namaku untuk diberikan sertifikat kepesertaan. Malang nian nasib.. Disisi lain, dekanat bidang kemahasiswaan membuka peluang penelitian, menawarkan kesempatan penelitian dengan didanai kampus. Diperlukan sejumlah proposal pengajuan penelitian sebagai bentuk gerakan akademis mahasiswa. Tapi hati aku tidak bergetar, aku mnganggap ksempatan ini tidak se "seksi" yang sebelumnya. Aku menyusun proposal dengan penuh penundaan..

Lihatlah.. Diriku saat itu teguh dengan rumus 1+1=2. Padahal rumus Tuhan tidak selalu begitu bukan?

Ketika satu pintu tertutup, ada banyak pintu lain yang bisa kita ketuk dan buka. Terlepas dari jalannya akan sukar, mudah, atau terlalu mudah. 

Aku pernah dengar, Doa kita pasti dijawab Allah, entah itu dengan "Dikabulkan", "Ditunda" atau "Diganti". Klao dipikir lagi dalam posisi  tersebut, ketika menghadapi situasi serupa, ada banyak pilihan pemaknaan yang bisa kita ambil. Alih-alih menghadapinya dengan negatif, bukankah sangat mungkin dipersepsikan bahwasannya tawaran kedua adalah jawaban doa dengan cara "diganti"?

Walopun mengerjakan proposal malas-malasan. Untungnya proposalnya cukup baik untuk dilanjukan pada tahap penelitian.. Setelah meneliti dan mendapatkan hasil. Aku dan rekan tim membuat artikel yang terbit di media massa, lalu memasukan hasil penelitian pada porsiding nasional. Allah merestui artikel itu untuk jadi finalis, dipresentasikan dan bersanding dengan kampus gengsi lain.. Waktu itu aku masih belum ketrigger, kalo ini sesuatu yang patut disyukuri.. Aku masih berkutat pada pusaran kekecewaan sebelumnya.. Sampe aku sadar, saat itu ada peserta yang ikut porsiding yang sama denganku, dan proposal penelitiannya lolosan skema yang sama dengan skema yang menolak proposalku..

Ini yang aku maksud 1+1 hasilnya tidak selalu 2. Aku sudah effort mengerjakan proposal, harusnya hasilnya gak menghianatiku kan, harusnya dari awal lolos. Tapi proposal yang effortnya gak semati2an yang pertama justru dapet kesempatan. 

Kita kadang ingin protes pada dunia, kenapa sih orang lain yang skillnya pas-pasan bahkan dibawah kita, bisa mendapat uang lebih banyak atau pengakuan lebih tinggi. Sedangkan kita hanya merasa gagal.

BISA JADI..

Karena kita fokus pada pusaran idealisme dengan "ukuran kita" semata. Karena kita mengabaikan pintu lain, kita hanya fokus pada satu jalan. Bahkan ketika jalanan lain terbuka didepan kita, kita tidak menganggapnya sebagai "anugrah dan hal positif" kita terlalu pandai mengabaikan.. Sebenarnya kita memperoleh kesempatan untuk maju, namun kita menganggapnya remeh karena yang bergengsi adalah kesempatan yang lain,, "padahal itu hanya pengukuran kita"..

Sahabatku pernah bilang, sulitnya syukur bisa jadi karena kita terlalu "arogan", kita terlalu "mengandalkan effort kita dan melupakan tangan Tuhan".. Aku terhenyak, seringkali aku temui orang yang hidupnya damai adalah mereka yang selalu mngucap hamdalah atas hidup yang dilewatinya, benar2 melibatkan Tuhan dengan penuh kesadaran, ya karena sejatinya memang begitu. Mereka menganggap setiap usaha adalah proses dan setiap proses adalah progres dan semuanya atas izin oleh sang Maha Segalanya. 

Kemudian aku berpikir, apa ini yang menyebabkan aku sulit bahagia. Aku tak pandai memaknai hidup, dan kurang mampu untuk bersyukur. Aku terlalu mengandalkan diriku dan mengesampingkan "Fakta bahwa Allahlah yang sejatinya mengatur dan mengizinkan takdirku". Aku terlalu "keukeuh" kalo berusaha sekian hasinya harus sekian, kalo begini harus begini, gak bisa begitu.

Mungkin.. inilah yang Allah maksud, apa yang menurut kita baik, belum tentu baik buat kita. Dan apa yang menurut kita buruk, belum tentu buruk.

Aku ingin mencatat hal ini untuk diriku sendiri, hingga suatu saat bisa aku baca kembali..

"Tidak usahlah kamu terlalu keras kepala. Hakikatnya dunia ini dinamis, manusia sudah dibekali kemampuan adaptasi supaya lebih fleksibel. Jika belahan bumi lain menganggapmu belum kompeten, pergilah ke belahan bumi lainnya yang bisa memberi wadah berkembang untukmu. Ketidakompetenanmu perlu kau akui, dan belajarlah lebih baik giat lagi. Tapi, teruslah melakukan sesuatu yang bisa mengaktualisasikan kompetensi yang kau punya. Pintu rejeki itu banyak, ketuk dan bukalah pintu2 itu dengan cara positif. Bersyukur itu perlu skill, latihlah dengan membaca peristiwa yang kamu alami dan intrepretasi dengan bijak. Memang, usaha takan pernah menghianati hasil, maka kamu harus terus berusaha. Ingat maknai hal-hal kecil, berterimakasihlah pada diri sendiri dan Tuhan"

"Dalam hidup,  1+1 hasilnya bisa 2, tapi bisa juga lain"

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Uzbekistan Part II - Kota Tua itu Bernama Bukhara

Bismillah.. Papan Petunjuk Lokasi di Bukhara Aku bergegas turun dari mobil cevrolet tua di depan sebuah stasiun kereta. Sesaat setelah menutup pintu, aku menggeret-geret koper dan berlari kecil menuju pintu stasiun. Udara terasa sangat dingin, disertai butiran salju halus berjatuhan. Halaman stasiun tampak putih. Sebelum masuk, aku dan temanku menyempatkan diri untuk singgah di toko kecil di depan pintu stasiun, kami memberi cemilan dan air mineral sebagai bekal untuk 7 jam perjalanan kereta. Setelah memasuki stasiun, udara seketika menghangat. Kutengok sekeliling, semua wajahnya asing, postur tubuhnya tinggi tegap dengan mantel tebal. Kami cukup kesulitan mencari tempat duduk. Terdengar hingar bingar pengumuman dari sumber pengeras suara, namun semuanya tidak kumengerti. Tidak ada pengumuman susulan berbahasa Inggris. Karena khawatir terlewat, kami segera bertanya ke petugas terkait jadwal keberangkatan kereta, yang ternyata masih menunggu sesuai jadwal di tiket.  Mengantri di St....

Negara ke 5: Uzbekistan Part I

Bismillah.. Seperti memutar kaset film favorit, ingatan tentang perjalananku dua bulan lalu terus muncul di kepala. Mulai kusut karena setiap adegan muncul bersamaan, tampak harus kutulis agar terurai rapih dan tayang dengan baik di otakku. Menuju Tashkent, Ibu Kota Uzbekistan Masih sangat jelas rasanya duduk di pesawat dari Istanbul menuju Tashkent. Melintasi langit Baku, Azerbaijan. Aku memandangi monitor yang lebih jadul daripada pesawat sebelumnya. Lebih susah di zoom dan disentuh, responnya lambat dan layarnya tidak HD. Saat itu cuaca terasa panas, cahaya matahari masuk langsung lewat jendela, meskipun pemandangan gunung bersalju tampak cantik di bawah sana, akhirnya aku dan temanku memutuskan menutupnya. Ku tengok sekeliling pesawat, kursi tampak banyak yang kosong, dan semua fitur wajahnya asing, tidak ada yang mirip sepertiku yang kurasa punya khas wajah SEA. Mereka tampak menganggap pesawat sebagai rumah sendiri, tidur selonjoran karena sampingnya kursi kosong. Penerbangan yan...

3 Negara : Part 1 - Niat Satu Negara, Eh Jadi Tiga

Bismillah.. Pada awal bulan Februari aku dan temanku pergi ke 3 negara ASEAN, yaitu Thailand, Vietnam, dan Malaysia. Aku sudah janji akan ceritakan pengalaman kami dari PoV-ku. Alasan aku menulis ini, pertama untuk mengabadikan ceritaku, kedua untuk membantu siapapun yang membutuhkan cerita ini. Karena  pada tahap rencana, aku pun membaca puluhan blog sebagai bahan risetku untuk persiapan pergi. Dan aku terbantu oleh tulisan2 traveler tersebut, aku harap demikian tulisanku dapat membantu yang lain. Tulisan ini akan aku bagi menjadi 3 part.  Part 1 : tentang Persiapan Part 2 : tentang Budgeting dan Experience Part 3 : tentang Lessons  Persiapan Solo atau Travel Agent? Aku dan temanku mempersiapkan semuanya tanpa travel agent. Mulai dari riset tempat, akomodasi, transportasi dan lain sebagainya. Kita gak pake Visa ya, karena passport kita bisa izin tinggal ke negara2 itu, cek aja passport kita bisa masuk gratis kemana aja, cari di google ya. Jadi dokumennya cukup passpost...