Langsung ke konten utama

Bergaul : Mematahkan Kesombongan dan Menyembuhkan Luka Keputusasaan

 


Bismillah..

Luka Bernama Putus Asa

Seringkali rasa rendah diri mendominasi segumpal daging yang disebut "hati". Membuat hati sesak dan jiwa raga seakan tak berdaya. Perasaan "tidak mampu", "takut salah", "tak berguna", "tak sehebat orang lain", "tidak layak" dan perasaan2 buruk lain terus menyeruak, memenuhi ruang hati yang entah bagaimana menimbulkan kesesakan dan ketakutan mengambil langkah atau sekedar mengambil keputusan. Minumbulkan gelombang keputusasaan akan bagaimana diri ini berkembang, apakah bisa sukses dan menghidupkan harapan2?.. Lagi dan lagi, harapan tenggelam ditelikung luka keputusasaan..

Lalu, aku coba mengintip hidup orang lain. Dengan meihat kehidupan sosial media, atau menonton pertunjukan pidatonya, atau dengan menguping cerita kehebatannya dari mulut ke mulut. Nahas, bak luka disiram garam, perasaanku makin ciut saja. Ibarat gelombang gempa susulan yang meluluh lantakan bangunan yang sudah berantakan. Cerita kehebatan orang lain menorehkan rasa putus asa yang makin dalam. Semakin sesak hati dengan pikiran2 kelam, "usia segini dia sudah bisa begitu, aku malah begini2 saja", "hebat kali dia, mana mampu aku sepertinya", "akumah apa atuh", rasanya ada jarak yg terbentang jauh antara diriku dan orang2 hebat itu, lalu seperti ada jarak antara posisiku dan pencapaiannya yg amat mustahil aku tempuh. Rasa minder mengerak dalam jiwa, entah dimana rasa itu berada, tapi sungguh memberatkan langkahku.

Apa Obatnya?

Berkutat dengan perasaan2 negatif itu, membuat sesak tak kepalang, aku coba menyeret langkah berat ini dan menemukan formulasi sederhana, yaitu  : Melangkahlah Dulu! Temui Orang-Orang!

Kenapa? 

Ternyata, selama ini aku hanya melihat orang lain dari jauh. Lalu membuat kesimpulan buru2, dan memenjarakan diriku dengan kesimpulan yang buru2 itu. Dengan kita bergaul, menemui orang2, dan berkegiatan serupa dan bersama, penilaian itu akan lebih nyata. 

Ternyata, pemangku jabatan itu tak sehebat yang aku agungkan dalam benaku.. Ternyata, mereka2 yang nampak aktif adalah orang2 yg sama denganku, yaitu masih belajar merangkai kata untuk berpidato,  ketika berargumen masih mutar2, percis sama denganku.. Ternyata, yang dia bicarakan adalah apa yang aku pikirkan..Ternyata, sosial medianya yg estetik dan terlihat aktif, kegiatannya sama seperti pelajar pada umumnya.. Ternyata, mereka masih selevel denganku, tulisannya masih gak nyambung dari satu paragraf ke paragraf lainnya.. Dan masih banyak "ternyata-ternyata" lain.. Bahwasannya "orang lain tak sehebat yang kita kira"..

Hanya satu yang membedakan "mereka menikmati progresnya sehingga percaya diri dan nampak bahagia, sedangkan kita mengutuk diri dan terpenjara putus asa".

Mematahkan Kesombongan

Selalu ada dua sisi dalam diri manusia. Di sebagian hari terpenjara luka putus asa, di sebagian hari yang lain diterbangkan rasa kesombongan. Terkadang, aku merasa sudah hebat, sudah cukup dengan progres yang aku jalani, sudah mencapai banyak hal dan di atas level orang sekitar. Nyatanya, kesombongan hanyalah kutukan, kutukan yang membuatku jalan di tempat, tidak mau terkalahkan, dan tidak berkembang. Kesombongan membuatku mengaburkan kenyataan, bahwasannya aku masih perlu belajar banyak hal. Kesombongan membinasakan kesempatan emas untuk belajar.

Dengan aku bersosialisasi, keluar dari radar nyamanku.. Aku menemukan, orang lain yang lebih progresif, berwawasan lebih banyak, lebih suka belajar, dan memiliki kompetensi di berbagai aspek yang lebuh baik. Dan mengetahui kadar kemamampuan dan pengetahuanku sampai mana. Bertemu orang lain, bergabung dengan komunitas dan megikuti kegiatan sosial membantuku mematahkan kesombonganku dan mendorongku memetakan langkahku untuk berkembang.

Bagaimana Cara Pergi Melangkah dan Menemui Orang2?

Banyak hal yang bisa dilakukan. Aku menempuhnya dengan bergabung di organisasi, mengikui kegiatan tingkat kampus, dan memberanikan diri keluar radar aman (mencoba perlombaan, pengabdian, penelitian dsb).

Kenapa organisasi ? Layaknya di Tv, vibes anak organisasi selalu mentereng. Terlihat bijak dan disegani layaknya pejabat kampus. Awalnya akupun silau melihat pejabat2 kampus, terasa hilang nyali. Namun akhirnya aku putuskan menyeburkan diri untuk bisa melihat dan merasakan dengan lebih nyata. Akupun menyadari organisasi adalah tempat belajar terbaik dengan rekan sebaya. Ternyata orang2 itu semuanya sama denganku : pembelajar. Pembelajar yang penuh kebebasan. Kebebsan berekspresi dan berargumentasi, tanpa takut salah dan takut dibantah. Sehingga kepercayaan dirinya memberikan aura positif dan disegani. Luka putus asaku mulai terrobati, ternyata mereka2 ini masih sama pembelajar dan aku bisa menjadi bagiannya.

Mengikuti kegiatan atau pertemuan yang lebih luas lagi untuk apa?. keputusasaan yang mulai tersembuhkan adalah kenyamanan. Namun, jika dibiarkan terus menerus, menimbulkan kesombongan. Ibarat air mengalir yang bisa terjaga kejernihannya, sedangkan air yang menggenang akan kotor dengan kekeruhannya. Begitulah diri ini, jika berhenti dalam radar nyaman, kesombongan mulai hinggap. Belajar bersama organisasi menumbuhkan kemampuan baru, dan kepercayaan diri yang makin berdikari. Tapi, perasaan "paling bisa", "ah gampang gitu doang" mulai datang, ibarat gelombang air laut yang mulai pasang.. Hati ini perlu penyeimbang. maka aku putuskan mengikuti kegiatan lain, dan terus bertemu orang baru. Sehingga aku tetap bisa objektif menilai kadar diri ini.. 


Menurutku, keseimbangan antara rasa percaya diri dan kelapangan hati untuk menyadari kekurangan agar mau belajar amatlah penting. Dan salah satu caranya adalah dengan bersosialisasi dengan penuh kesadaran.

Bergaul, mempertemukanku dengan orang2 lebih hebat, mematahkan kesombonganku dan melapangkan keinginanku untuk terus berjalan, berprogres dan belajar. Bergaul menyembuhkan luka putus asaku, ternyata masih banyak orang yang berjuang sepertiku. Bergaul menyadarkanku diatasku ada langit dan aku masih berpijak pada tanah. Bergaul membumikan perasaanku dan melangitkan harapanku..

 

"Bergaulah untuk Mematahkan Kesombongan dan Menyembuhkan Luka Keputusasaan"

-didit-

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Uzbekistan Part II - Kota Tua itu Bernama Bukhara

Bismillah.. Papan Petunjuk Lokasi di Bukhara Aku bergegas turun dari mobil cevrolet tua di depan sebuah stasiun kereta. Sesaat setelah menutup pintu, aku menggeret-geret koper dan berlari kecil menuju pintu stasiun. Udara terasa sangat dingin, disertai butiran salju halus berjatuhan. Halaman stasiun tampak putih. Sebelum masuk, aku dan temanku menyempatkan diri untuk singgah di toko kecil di depan pintu stasiun, kami memberi cemilan dan air mineral sebagai bekal untuk 7 jam perjalanan kereta. Setelah memasuki stasiun, udara seketika menghangat. Kutengok sekeliling, semua wajahnya asing, postur tubuhnya tinggi tegap dengan mantel tebal. Kami cukup kesulitan mencari tempat duduk. Terdengar hingar bingar pengumuman dari sumber pengeras suara, namun semuanya tidak kumengerti. Tidak ada pengumuman susulan berbahasa Inggris. Karena khawatir terlewat, kami segera bertanya ke petugas terkait jadwal keberangkatan kereta, yang ternyata masih menunggu sesuai jadwal di tiket.  Mengantri di St....

Negara ke 5: Uzbekistan Part I

Bismillah.. Seperti memutar kaset film favorit, ingatan tentang perjalananku dua bulan lalu terus muncul di kepala. Mulai kusut karena setiap adegan muncul bersamaan, tampak harus kutulis agar terurai rapih dan tayang dengan baik di otakku. Menuju Tashkent, Ibu Kota Uzbekistan Masih sangat jelas rasanya duduk di pesawat dari Istanbul menuju Tashkent. Melintasi langit Baku, Azerbaijan. Aku memandangi monitor yang lebih jadul daripada pesawat sebelumnya. Lebih susah di zoom dan disentuh, responnya lambat dan layarnya tidak HD. Saat itu cuaca terasa panas, cahaya matahari masuk langsung lewat jendela, meskipun pemandangan gunung bersalju tampak cantik di bawah sana, akhirnya aku dan temanku memutuskan menutupnya. Ku tengok sekeliling pesawat, kursi tampak banyak yang kosong, dan semua fitur wajahnya asing, tidak ada yang mirip sepertiku yang kurasa punya khas wajah SEA. Mereka tampak menganggap pesawat sebagai rumah sendiri, tidur selonjoran karena sampingnya kursi kosong. Penerbangan yan...

3 Negara : Part 1 - Niat Satu Negara, Eh Jadi Tiga

Bismillah.. Pada awal bulan Februari aku dan temanku pergi ke 3 negara ASEAN, yaitu Thailand, Vietnam, dan Malaysia. Aku sudah janji akan ceritakan pengalaman kami dari PoV-ku. Alasan aku menulis ini, pertama untuk mengabadikan ceritaku, kedua untuk membantu siapapun yang membutuhkan cerita ini. Karena  pada tahap rencana, aku pun membaca puluhan blog sebagai bahan risetku untuk persiapan pergi. Dan aku terbantu oleh tulisan2 traveler tersebut, aku harap demikian tulisanku dapat membantu yang lain. Tulisan ini akan aku bagi menjadi 3 part.  Part 1 : tentang Persiapan Part 2 : tentang Budgeting dan Experience Part 3 : tentang Lessons  Persiapan Solo atau Travel Agent? Aku dan temanku mempersiapkan semuanya tanpa travel agent. Mulai dari riset tempat, akomodasi, transportasi dan lain sebagainya. Kita gak pake Visa ya, karena passport kita bisa izin tinggal ke negara2 itu, cek aja passport kita bisa masuk gratis kemana aja, cari di google ya. Jadi dokumennya cukup passpost...