Bismillah..
Untuk sampai pada pengalaman ini, effort yang dilalui cukup panjang.. Dimulai dari tes berkas, tes wawancara, FGD, bikin paper, konferensi online, dan tidak lupa fundrising biaya juga berdoa tentunya.
Peserta yang
berangkat dibagi menjadi bbrp kelompok sesuai poin SDGs. Aku satu kelompok
dengan rekanku Nafa dari Malang, dan Raini dr Aceh. Kami semua sama2 dr semester
5. Kami harus membahas poin ke 11 SDGs yaitu Menjadikan kota dan pemukiman yang inklusif, tangguh dan berkelajutan. Kita semua bukan berasal dr jurursan yg
berkaitan dgn tata kota. Ak psikologi, nafa agama Islam, dan Raini Geofisika. Tapi
whatever, kita tetap berusaha optimal. Pada hari pengumpulan paper, aku n team begadang
dr daerah masing2 menunggu revisi dari panitia. Alhamdulillah, struktur tulisan
kita tdk dapat revisi. Lalu beberapa hari setelahnya kita konferensi online,
dihadiri juri2, ada sesi tanya jawab juga. Kami dicecar bbrp pertanyaan yang
mendetail dan jd masukan untuk perbaikan paper kita. Beberapa hari lagi paper
kita terpilih jadi top 4, yang akan mewakili presentasi scr offline di
International Youth Centre, Kuala Lumpur. Masih tdk menyangka, aku dan teman2
kelompok bersyukur dan bertanya2. Is it real or a prank?! Haha. Karena masih
tdk menyangka jg, aku menghubungi org2 yang bisa myakinkan dan menguatkanku,
bahwa aku, team dan paper kita layak untuk dipresentasikan nanti. Ak
menghubungi rekan2, guru dan kakak2ku yg terhubung dalam kehidupan sosialku. Kenapa aku masih tdk percaya? Karena ide2 dalam paper kelompok lain juga menurutku keren banget. Saat konferensi online pun luar biasa kerennya. Lugas dan terstruktur. Sampai aku mendapat insight dari salah satu temanku, sepengalaman dia essai terpilih itu biasanya berangkat dari keresahan, yang paling realistis dan dekat dengan kehidupan. Dan kalo kembali pada essai timku memang kami mengangkat masalah dari keresahan sekitar yaitu kemacetan. Kepercayaan diriku meningka sekian persen hehe
![]() |
| Self Potret Sebelum Acara Dimulai |
Hari H, aku minta doa dari org2 yg mendukungku, aku meminta afirmasi juga dari Ibu kaprodiku. Aku masih deg2an saja mau tampil. Takut memalukan. Apalagi juri yg sekarang adalah aktivis2 dari Malaysia, rasanya selain bawa diri, bawa beban negara juga (haha maaf kalo terkesan hyperbola)..
Luar biasa, teman2 tim lain pun tampil dengan optimal. Aaaa kalian keren2 bangetttt, luv.
![]() |
| Setelah Acara Selesai |
Setelah selesai presentasi, alhamdulillah plong rasanya. Alhamdulillah aku merasa timku mendapat atensi yang kondusif dari audiens. Setelah selesai, beberapa kawan sesama peserta pun memberiku validasi yang positif, memberikan kata2 yg berharga atas effort kami dan bagaimana aku presentasi serta apa yg kami presentasikan. Aku bersyukur dipertemukan dengan orang2 hebat nian dan tetap rendah hati. Itu cukup memuaskanku, sekaligus membuatku makin haus pengalaman dan ilmu baru lagi. I need to attend such agenda again, and I want to present other great material next time!!! O Allah, give me more chances and ability, Aamiiin!
![]() |
| Di Loby Gedung Int Youth Centre, KL |
Menurutku ajang2 seperti ini bisa dijadikan wadah mengukur diri, spaya kita tahu "kadar kemampuan dan keilmuan" kita. Bukan untuk dijadikan bahan jumawa, atau justru bahann putus asa. Tapi dijadikan batu loncatan, kalau kita haru belajar lagi, belajar lagi dengan konsisiten. Ajang seperti ini juga menjadi wadah ide2 pemuda, berpikir dan menyampaikan apa yang dipikirkan, ini menyenangkan, wadah aktualisasi diri yang amat berguna.
"Kuasa Anak Muda adalah Jantung Negeri"
-Kak Sharifah, Kabir Influencer SDG and CEO ASEAN Youth Network Resources-


.jpeg)
.jpeg)
Komentar
Posting Komentar