Bismillah..
Hidup memang kadang becanda, tapi kalo tiba2 pikiranku serius, aku tuliskan saja.
Jadi, inilah alasan kenapa penting mengatakan tidak menurut podcast Daddy C. Ya bukanlah, tapi menurut saya. Check it out!
- Dunia akan membutakan orang yang tumbuh dengan kalimat “IYA” terus menerus
Kata orang bijak, manusia belajar dari kesalahan. Bagaimana seseorang bisa belajar dari salah apabila orang2 di sekelilingnya selalu “mengamini” apa yang dikatakannya maupun apa yang dilakukannya. . Dunia akan tampak abu baginya, tak jelas mana yang salah dan benar. “Saya setuju dengan perkataanmu”, “I am with u”, “Yeah ur opinion alwasy right, always with u”, “o neptunus, u’re really my leader, all respect for u”. And all sweety shit words yang seringkali keluar bahkan tanpa dipikirkan. Bukan tidak boleh, tapi berikan kadar yang tepat. Katakan sejujurnya. Supaya orang tersebut belajar mengevaluasi karyanya (entah itu ide, rencana, produk atau pendapatnya). Bayangkan, jika dia tumbuh terus menerus tanpa penolakan, tahun demi tahun usianya semakin tua, masa demi masa, perannya sebagai manusia berganti, semakin besar tanggungjawabnya. Sebutlah dia jadi pemimpin suatu kelompok, bayangkan betapa keras kepalanya. Betapa angkuh dan otoriternya. Tidak selalu ditunjukan dengan “amarah”, tapi kalimat lembutnya akan berkuasa dan membangun benteng tinggi untuk menolak pendapat orang lain, ntah rekannya, ntah bawahannya. Seharusnya sifat egosentris berhenti pada tahap kanak2 (developement stage menurut Jean Piaget), tapi karena sepanjang masa tiada yang berani mengatakan tidak pada dirinya, sepanjang hidupnya merasa tindakannya benar, karena orang selalu menerima “produk” nya.
2. Dia terlalu memukau, aku yang bukan siapa2 merasa tak berhak mengatakan “TIDAK”
“Al-Kalamu yanfudzu ma la tanfudzuhu al-ibaru”. Perkataan dapat menembus apa yg tdk dapat ditembuh jarum. Misal menembus perasaan. Jika hati kita tertusuk tajamnya ucapan orang lain, mari stay rasional. Undzur maa qoola wa laa tandzur man qoola. Mari kita Dengar, Pikir dan Pertimbangkan apa yang dikatakannya. Seringkali aku merasa terintimidasi oleh perkataan yang amat tegas, sering pula aku terhanyut terbawa perasaan karena perkataan yang terlalu lembut. Atau bahkan aku menjadi buta aksara karena lebih dulu melihat siapa yang mengatakannya. Apa yang dikatakan orang, dan bagaimana orang mengatakannya diluar kendaliku. Hal yang bisa kukendalikan adalah DIRIKU. Sekali lengah mengatakan tidak, satu pintu sudah terbuka : pintu membiarkan orang lain mengendalikanku, dan dia merasa benar dengan tindakannya. Welcome ribuan tangga pengorbanan yang bisa saja tanpa artinya.
3. Kapan sebaiknya berkata “TIDAK” ?
Saat diri kita merasa ada yang perlu dibilang “TIDAK”. Mendengar pendapat yang tak masuk akal, mendapati ajakan yang merugikan, dan hal-hal lain yang tidak kita kehendaki. Aku yakin kata “Tidak” diciptakan untuk penyeimbang, ungkapan penolakan, kata “tidak” ada bukan untuk semata2 menyakiti. Tapi bisa saja, untuk mempertahankan diri. Memang, kita terlalu takut dibenci orang, takut menjadi berbeda. Sampai akhirnya konformitas adalah jalan ninjanya. Misalnya dalam suatu forum seseorang menyampaikan idenya, orang2 nampak setuju. Tapi setelah otak kita menganalisa, ini menjadi hal yang perlu kita tanggapi dengan kalimat “TIDAK”. Sayangnya rasa takut akan dijauhi lebih panjang dari jumlah huruf tidak yang hanya lima. Akhirnya kata itu tersangkut dikerongkongan, kita hanya berani mengangguk2 terpaksa.
Sejatinya, semua orang berhak berkata tidak. Dan semua orang layak menerima respon “TIDAK”.
4. Bagaimana berkata “TIDAK” yang baik?
Pernah dengar pepatah bahasa arab, Al-‘Abdu yudhrabu bil ‘ashaa wal hurru takfiihil
isyaaratu
“Hamba sahaya itu harus dipukul dulu dengan tongkat (supaya mengerti), tapi orang yang merdeka (bukan budak) itu cukuplah baginya isyarat.”
Intrepretasiku, kalimat ini menunjukan sejauh mana kualitas seseorang. Jika benar dirinya belajar banyak, dan tumbuh dewasa, kalimat yang efektif beserta data akan cukup menjadi triggering yang membuatnya berpikir Semakin kosong kepala dan jiwanya, semakin sulit dan semakin keras jalan membuatnya mengerti.
Begitupula jika kita hendak mengatakan tidak. Rasanya sangat subjektif untuk menilai “tidak” yang baik itu seperti apa. Tapi kita bisa menilai “tidak” yang efektif itu bagaimana, yaitu dengan melihat lawan bicar.
5. Ketika seseorang berkata “Tidak” pada ideku, apakah artinya ideku sampah?
Bisa iya, bisa juga nggak. Tapi terlepas dari itu, aku selalu meyakini hal ini, “semua pendapat dalam forum diskusi tentu berharga, tapi setiap masalah punya harga yang berbeda. We deal a problem with the right cost. Kita harus memilih pendapat yang paling cocok dan relevan untuk saat itu. Pendapat yang tertolak saat itu, sangat mungkin terpakai di saat lain”. Jadi menurutku sebaiknya longgarkan perasaan sungkan untuk “berpendapat”. Mulailah bicara, dan bersiaplah atas segala respon.
6. Conclusion
Mulai berani berkata “TIDAK” dapat berarti mulai membela diri, mulai siap menghadapi konsekuensi, serta mulai membantu orang lain tumbuh dewasa, melihat banyak sudut pandang dan mencairkan egosentrisnya. Takut dan memutuskan tak mengutarakan kata “TIDAK”, dapat berarti memenjarakan pikiran kita dan membiarkan orang lain terbutakan dunianya.

Komentar
Posting Komentar