Langsung ke konten utama

ANOTASI USIA 23 TAHUN


Bismillah..

 

Kata orang-orang usia 20-an adalah usia gencar-gencarnya mencari jati diri. Sibuk mencoba berbagai hal, dan menjadi titik kritis menentukan identitas diri. Ada banyak hal yang aku “baru” sadari di usia ini, serta fakta  bahwa aku masih bodoh dan salah dalam berbagai hal lainnya dalam kehidupan.

Ada beberapa catatan yang tercetak tebal dalam pikiranku, bisa dikatakan ini sedikit pelajaran yang aku ambil di usia ini. Karena berulang tahun artinya selain merayakan semakin dekat dengan kematian, juga mengevaluasi hidup yang sudah dijalani. Tidak lupa mereview kembali tujuan, cita-cita, bahkan cinta yang apakah masih relevan untuk diteruskan atau dihentikan.


-          Caraku melihat orang yang berbeda

Saat aku lebih muda dari saat ini. Aku hanya mengklasifikasikan 2 warna dalam hidup, hitam dan putih. Salah dan benar. Layak dan tidak. Dan seterusnya, aku tidak peduli variabel lain. Saat ini ketika menghadapi orang lain yang berbeda pandangan, berbeda keputusan, terasa tidak memiliki kesamaan norma. Aku bisa lebih lambat mengambil respons, mencoba mengamati variabel-variabel lain dibalik tindakan orang lain tersebut. Aku juga sering merefleksikan diri, “aku pernah begini gak ya, kalo iya terus saat itu aku kenapa ya”. Atau aku bisa lebih tenang bertanya, kenapa ke orang yang berbeda, kalau sudah tahu alasannya bisa berakhir menyimpulkan “ah biarin, aku ngeliat dia kayak ngeliat aku yang dulu”, “yaudah nnti juga ada momennya orang lain ngerti”. Kayaknya aku gak harus selalu dominan dan menang dalam obrolan. Beda banget sama aku yang dulu gatau kenapa suka pengen dominan dan maksa orang untuk tahu apa yang udh aku tahu, padahal bukan urusan yang penting2 amat. Skrg aku lebih ngerti dan bisa lebih diem kalo dengerin orang lain yang menurutku ngaco.


-          Caraku memfilter sesuatu

Pertama yang akan aku bahas adalah memfilter orang, menurutku ada beberapa pihak yang cukup jadi kolega, kenal saja, atau keluarga. Yang mana harus dijaga agar sustain, yang mana yang cukup dikenal seperlunya. Aku juga jadi gak tipes kalo gak diajak, gak sekarat juga kalo ditolak. Sebelumnya aku berusaha menjaga perasaan semua orang, dan memaksakan apa yang aku gamau jadi mau atau sebaliknya demi “menjaga” orang lain tetap ada di lingkaran amanku. Sekarang aku lebih bisa bilang “enggak” untuk hal-hal yang aku gak mau, gak perlu, dan gak bisa. Ternyata memang gak harus semua orang ada dalam lingkaranku. Fakta lainnya, aku tetap bisa jadi karakter jahat di PoV orang, meskipun tidak. Jadi yaudah aku gak perlu pusing jadi ibu peri, karena mustahil.


Kedua caraku memfilter informasi. Bener ternyata kata guruku, kadang kita harus jadi tuli untuk sesuatu yang buruk dan memburukan. Kalo terjebak dalam obrolan yang aku gamau, ya cukup dengerin abis itu gak usah dipikirn. Tinggalin saja ditempat obrolannya haha. Dulu aku selalu kepikiran kritik dan masukan semua orang. Ingin perfect gamau ada celah. Skrg aku bisa lebih dengerin diri sendiri “aku maunya apa dan bagaimana”. Dari sini aku lebih menyukai diriku. Akan selalu ada trigger yang ngebuat aku gak bersyukur, contoh orang yang kritik penampilanku, atau ngebandingin aku sama orang yang dianggap lebih. Aku gaperlu lagi membuka telinga untuk hal itu, karena berusaha demi itu hanya membuat keributan di kepala. Di sosial media juga aku memutuskan intens mengikuti informasi yang aku perlu dan mau, tentunya dengan kadar yang tepat. Misalnya aku lagi suka traveling, aku follow akun yang relevan. Dengan kondisi aku yang masih seadanya, aku akan follow akun yang menumbuhkan harapan dan gak membuat aku merasa kecil. Yang mendorongku memaknai bahwa “pergi sedekat apapun layak dan bisa dirayakan”.


Ketiga, caraku menentukan tujuan. Manusia memang punya potensi untuk rakus. Uang banyak, karir stabil, gaji besar, traveling, terkenal, menikah, bahagia dan sebagainya dan sebagainya. Tapi lupa untuk hidup. Menjalani hidup sebagai manusia yang sehat serta bahagia. Aku memang belum sepenuhnya bisa memfilter tujuan, karena memang iya di usia ini aku masih eksplorasi banyak hal termasuk caraku menjalani hidup day by day. Akan tetapi aku mulai punya pemahaman untuk “merumuskan” hidupku setelahnya. Misalnya, jika aku ingin terasa keren, aku harus mati2an tembus perusahaan besar di Jakarta, naik  mrt dengan lanyard, dan bikin a day in my life dengan energi yang korporat abis, dengan jam kerja pasti sampe matahari terbenam, tapi aku bisa punya uang untuk beli tiket pesawat sebulan sekali, konsekuensinya aku bisa kelelahan. Atau aku ingin menjadi tenaga pengajar yang penghasilannya naik perlahan, apalagi di usia muda, mungkin aku juga gak jadi mbak mbak sekeren yang di reels instagram, aku harus baca jurnal dan buku tiap malam, jika ingin liburan atau barang, aku perlu menabung untuk waktu tertentu. Konsekuensinya, sekolahnya mahal, harus serba bisa, dibayar dengan secukupnya (ya begitulah kata orang2 twitter). Aku menimbang-nimbang apakah aku nyaman dengan energi mba2 korporat atau ibu ibu pendidik?. Ini hanya misal ya, yang pada intinya dalam merumuskan hal ini aku mulai memprioritaskan diriku bukan lagi pandangan orang lain. Mungkin dulu aku ingin terlihat sukses buat orang lain, tapi saat ini aku juga ingin “diriku merasakan sukses dalam hidup sepenuhnya”.

-         Aku dan aktivitasku

Setelah mencoba menghadiri dangdutan, wahana permainan, restoran, kafe, taman, mall besar dan kecil, perpustakaan. Aku lebih mengenal diriku, mana yang memberiku kesenangan jangka panjang, dan mana yang cukup dijadikan pengalaman. Ternyata aku lebih suka eksplor jajanan, menyepi, tapi siap eksplor segala hal baik dalam satu kunjungan. Mana tempat dan aktivitas yang layak dapat waktu untuk aku luangkan, dan rela aku keluarkan uang. Sedikit demi sedikit aku lebih tahu bahagiaku. Bukan perihal baik dan keren menurut orang lain, tapi perihal menurutku dan kecocokanku. Aku juga bisa lebih mengerti kapan aku ingin melakukan hal sendirian dan bersama-sama dengan orang lain. Sendiri tidak selalu buruk, dan berbarengan tidak selalu ribet. Cukup tentukan “yang mana” aktivitas dan orangnya yang sesuai. Ya cukup sederhana.

 

Jakarta,

Untukku dan kebahagiaanku

Apabila sampai kepadamu, semoga juga jadi bahagiamu..

 




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Uzbekistan Part II - Kota Tua itu Bernama Bukhara

Bismillah.. Papan Petunjuk Lokasi di Bukhara Aku bergegas turun dari mobil cevrolet tua di depan sebuah stasiun kereta. Sesaat setelah menutup pintu, aku menggeret-geret koper dan berlari kecil menuju pintu stasiun. Udara terasa sangat dingin, disertai butiran salju halus berjatuhan. Halaman stasiun tampak putih. Sebelum masuk, aku dan temanku menyempatkan diri untuk singgah di toko kecil di depan pintu stasiun, kami memberi cemilan dan air mineral sebagai bekal untuk 7 jam perjalanan kereta. Setelah memasuki stasiun, udara seketika menghangat. Kutengok sekeliling, semua wajahnya asing, postur tubuhnya tinggi tegap dengan mantel tebal. Kami cukup kesulitan mencari tempat duduk. Terdengar hingar bingar pengumuman dari sumber pengeras suara, namun semuanya tidak kumengerti. Tidak ada pengumuman susulan berbahasa Inggris. Karena khawatir terlewat, kami segera bertanya ke petugas terkait jadwal keberangkatan kereta, yang ternyata masih menunggu sesuai jadwal di tiket.  Mengantri di St....

Negara ke 5: Uzbekistan Part I

Bismillah.. Seperti memutar kaset film favorit, ingatan tentang perjalananku dua bulan lalu terus muncul di kepala. Mulai kusut karena setiap adegan muncul bersamaan, tampak harus kutulis agar terurai rapih dan tayang dengan baik di otakku. Menuju Tashkent, Ibu Kota Uzbekistan Masih sangat jelas rasanya duduk di pesawat dari Istanbul menuju Tashkent. Melintasi langit Baku, Azerbaijan. Aku memandangi monitor yang lebih jadul daripada pesawat sebelumnya. Lebih susah di zoom dan disentuh, responnya lambat dan layarnya tidak HD. Saat itu cuaca terasa panas, cahaya matahari masuk langsung lewat jendela, meskipun pemandangan gunung bersalju tampak cantik di bawah sana, akhirnya aku dan temanku memutuskan menutupnya. Ku tengok sekeliling pesawat, kursi tampak banyak yang kosong, dan semua fitur wajahnya asing, tidak ada yang mirip sepertiku yang kurasa punya khas wajah SEA. Mereka tampak menganggap pesawat sebagai rumah sendiri, tidur selonjoran karena sampingnya kursi kosong. Penerbangan yan...

3 Negara : Part 1 - Niat Satu Negara, Eh Jadi Tiga

Bismillah.. Pada awal bulan Februari aku dan temanku pergi ke 3 negara ASEAN, yaitu Thailand, Vietnam, dan Malaysia. Aku sudah janji akan ceritakan pengalaman kami dari PoV-ku. Alasan aku menulis ini, pertama untuk mengabadikan ceritaku, kedua untuk membantu siapapun yang membutuhkan cerita ini. Karena  pada tahap rencana, aku pun membaca puluhan blog sebagai bahan risetku untuk persiapan pergi. Dan aku terbantu oleh tulisan2 traveler tersebut, aku harap demikian tulisanku dapat membantu yang lain. Tulisan ini akan aku bagi menjadi 3 part.  Part 1 : tentang Persiapan Part 2 : tentang Budgeting dan Experience Part 3 : tentang Lessons  Persiapan Solo atau Travel Agent? Aku dan temanku mempersiapkan semuanya tanpa travel agent. Mulai dari riset tempat, akomodasi, transportasi dan lain sebagainya. Kita gak pake Visa ya, karena passport kita bisa izin tinggal ke negara2 itu, cek aja passport kita bisa masuk gratis kemana aja, cari di google ya. Jadi dokumennya cukup passpost...