Bismillah..
Terkadang kita merasa berjasa dan bersyukur karena selalu menjadi jawaban atas pertanyaan orang. Karena selalu menjadi balok pengisi kekosongan. Karena menjadi sosok siaga atas situasi darurat.
Awalnya terasa wajar karena menyenangkan. Karena melihat orang2 senang dan mengapresiasi. Lama2 apakah masih wajar?
Sayangnya dunia tak sebaik hati kita, tak sepositif pikiran kita.
When we say yes, people just think we’re ready doing romusha. They went wild tidak tahu dirinya. Kita seperti menggendong lintah kecil yang banyak, yang menghisap semangat, menghisap batas.
The worst part is, kita tidak sadar. Kita anggap hal tersebut baik2 saja. Kita anggap menanggung kewajiban orang lain adalah hal terpuji. Kelak di masa depan, kita menuntut hal yang sama pada orang lain. Karena kita pikir hal ini baik, kita berharap orang lain melakukan hal yang sama. Memikul beban lingkungannya, sendirian, seperti terpujinya kita.
Dalam society yang tidak tahu diri. Menunggu orang lain sadar seperti menunggu timun melahirkan bayi. Tidak akan pernah terjadi, mustahil, hanya ada dalam dongeng. Kita perlu berani, membuat garis, membagi beban, meminta pertanggungjawaban. Belum terlambat, katakanlah tidak untuk membela diri sendiri, agar kita bisa berani membela orang lain di masa depan..

Komentar
Posting Komentar